Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juni 2017

Tukang Bakso, Tukang Parkir, dan Pencari Kode Promo

Siang itu cukup panas. Gadis itu merasa ia dapat berubah menjadi vampir dan memangsa kapan saja. Untungnya tabir surya menangkal hasratnya itu, walaupun tabir surya tak mampu menangkal hiruk-pikuk sekitar yang menambah riuh kerusuhan pikirannya sendiri. Bahkan topi pantai lebar yang tak cukup serasi dengan terusan katun berkancingnya itu tak mampu mendistorsi gadis itu dari dunia luar yang sedang ingin ia... tinggalkan.

Berjalan dengan sepatu Yeezy tiruan pemberian seorang tiran dalam hidupnya, ia sibuk berkutat dengan layar 5,5 inci berbalut Pikachu yang ditangkapnya di suatu kios Pasar Atom seharga Rp 75.000,-. Teringat olehnya sesaat setelah mendapatkannya, kios lain juga menjuanya seharga Rp 50.000,-. Namun tak ada ukuran untuk tipe miliknya, jadilah ia berpikir, mungkin kecocokan adalah harga yang lebih mahal.

Hewan kuning—atau tokoh kuning itu tak pernah meliat ke dalam; ke layar, ia hanya menatap sekitar dan terkadang sekitar balik menatapnya. Ia tak pernah tahu di layar itu, sedang terjadi pertarungan sengit, antara Grab dan Uber. Saling menawarkan harga termurah dan kode promo termudah.

Dengan selisih angka cukup jauh, pertarungan yang terjadi di balik punggung Pikachu itu dimenangkan oleh Uber, dengan selisih angka seharga seporsi bakso. Mata gadis itu menyisir sekitar, memandang ke arah jalan raya, mencari tumpangan yang telah dipesannya. Alih-alih menemukan tumpangannya, matanya tertumbuk pada suatu objek, dengan asap mengepul dan botol-botol saus,  dan bola-bola daging berbagai ukuran.

“Bakso!”

Ia segera berjalan menyebrangi jalan itu melalui punggung zebra datar pas di depan pohon rindang tempat tukang parkir duduk termangu. Topi lebarnya ia tarik lebih rendah untuk menutup wajah immortalnya. Hanya butuh dua langkah ke kanan untuk menghidup kepulan asap kaldu yang menggirukan.

“Bang, bakso satu ya!” katanya sambil memantau pergerakan tumpangannya melalui GPS.

“Bungkus atau makan sini?” tanya si abang bakso yang sekilas terlihat menggunakan peci rajut berwarna putih.

“Bungkus, tanpa kol ya bang!” jawabnya tak lepas dari pandangan ke layarnya.

“Siap neng!”

GPS menunjukkan sekitar  lima menit lagi tumpangannya akan sampai. Terdengar keriuhan yang tak terdengar jelas di sekitarnya dan ia ingin segera pergi dari sana, menuju ke kamarnya, tenggelam dalam aroma kuah bakso dan pikirannya sendiri. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan makanan ini. Padahal dulu sekali, kala ia sakit, baksolah asupan  gizinya setiap hari. Mulai dari bakso ikan dari depot “Kita”, bakso “Hompimpa” di seberang apartemen, atau bakso beku “Bernardi” yang selalu dicampur sayur beku pula. Dahulu ia bleneg setengah mati, sekarang ia rindu setengah hidup. Tak disangka ia menemukannya tanpa dicari. Ia mengangkat kepalanya, meneliti butiran-butiran bakso yang tersusun rapi dengan mie dan su-un di rak bawahnya. Lalu ada daun bawang dan kol putih yang ia benci. Di dekat panci, berjejer botol-botol saus mulai dari saus sambal, saus toat, kecap asin bermerek limun, dan kecap manis bermerek kenangan mantan.
Peh, mungkin pabrik itu kehabisan nama, pikirnya.

Pandangannya beralih ke arah jalan dan menemukan tumpangannya sudah dekat.

“Ini mbak baksonya!”

Ia segera mengambil dompet, mengeluarkan pecahan sepuluh ribu, mengambil pesanannya dan menatap layar untuk memastikan plat nomor tumpangannya itu.

“Makasih bang!” katanya seraya melihat nama supir tumpangannya. Revis? Nama yang cukup keren untuk seorang supir. Langkah kakinya berhenti di pintu belakang mobil dan masuk ke dalamnya.

“Pak Revis?”
“Ya, mbak Keina ya?”
“Iya.”
“Oke.”

Supir langsung menurunkan rem tangan dan menancap gas. Namun tak sampai bergerak lima meter, tukang parkir yang tadinya duduk di bawah pohon, meniupkan peluitnya dari samping gerobak bakso. Gadis itu melengos, betapa mudahnya hidupmu, duhai tukang parkir. Mobil itu tetap berjalan dan tak menghiraukan suara prat-prit peluit tukang parkir ataupun tukang bakso.

Tukang bakso? Ia terlihat berlari ke arah mobil yang ditumpangi gadis itu dan berteriak, “Hei belum bayar neng!”

Gadis itu menoleh ke belakang, bingung dengan tukang bakso yang merasa baksonya belum dibayar. Namun ia berpikir, mengapa di awal tukang bakso memanggilnya neng, dan di akhir memanggilnya mbak?

Segera ia menyadari, ia membayar bakso itu bukan ke tukang bakso, melainkan tukang parkir.

Tukang parkir tertawa.

Tukang bakso mengikhlaskan seporsi baksonya yang raib dan kembali ke gerobak miliknya, tukang parkir kembali duduk di bawah pohon rindang, bangga akan dirinya.

Dan pada akhirnya tak ada yang mampu mengejar gadis itu, kecuali ia sendirilah yang memilih untuk kembali.

Selasa, 25 April 2017

Herseys

"Sisir rambutmu, jangan pakai jepit itu."

Dan dengan segera kulakukan. Sebenarnya aku tetap ingin rambutku ter-jedai karena aku pasti akan kegerahan karena cuaca dan yah, tentu saja; tak bisa dipungkiri lagi, kepekatan energi drama hidup yang hanya bisa kuhadapi dengan helaan nafas. Pasrah.

Aku menatap bayangan diriku pada cermin yang seukuran tubuhku. Rambut ikalku ini cukup panjang dan sebenarnya agak sulit diatur karena aku tak punya ide dan tak punya keinginan untuk menatanya lebih lanjut. Singkatnya, aku malas dan tak peduli.

"Kayak presiden aja yang datang ya." katamu agak kesal.

Hey, tapi siapa yang sibuk mengecat kukunya tadi malam? Riuh menyuruhku menggosok sisa-sisa seni tak profesional akan cat kuku dan menggangguku untuk menyelamatkan dunia dari Murk bersama Izayoi dkk. Ribut mempermasalahkan rambut keriting yang lama tak dimanjakan, merek lotion paling murah, ah sudahlah. Memang sudah takdir hidupku ini ribet karena hal-hal sepele.

Aku meletakkan sisir di laci dan mulai menggeser-geser layar gawaiku. Bisa dibilang tak bertujuan memang, tapi entahlah aku tiba-tiba jadi gugup membayangkan drama apa yang akan kuperankan beberapa menit lagi. Karena aku hanya mendapat naskah oret-oretan.

Aku berpindah dari gawai dengan kuota kritisku ke buku yang sudah berulang kali kubaca. Hanya sebagai pelarian, tapi aku menikmati ceritanya. Aku selalu menikmati kekuatan bahasa. Kekuatan yang menumbuhkanku, menjadi tujuan hidupku, memberiku pelajaran, dan juga menghancurkan aku. Di buku berjudul Four ini, si Tobias mantan Abnegation lari dari faksinya karena menginginkan kebebasan dari tiran dalam hidupnya; ayahnya. Kalau ia bisa berlari dari Abnegation sebagai Tobias ke Dauntless dan menjadi Four, kemana aku harus berlari dari panggung drama ini sebagai "si lugu dari keluarga hancur"? Kemana dan jadi apakah aku?

Tok tok tok

Suara ketukan terdengar dan aku dengan cepat membatasi halaman terakhir petualangan yang aku baca. Dan aku berdiri, tanpa tahu akan melakukan apa.

"Beri salam." Katamu setengah berbisik.

Yah, baiklah. Sekedar "halo" dan "baik-baik saja" terdengar normal. Dan menjemukan. Serta pasti penuh drama. Mengapa setiap sudut hidupku penuh drama? Padahal aku hanya ingin kebebasan seperti di Dauntless.

Pintu terbuka dan aku bersamamu keluar menyambut tamu-tamu itu. Layaknya raja dan ratu beserta putri-putrinya, walaupun melalui busana terlihat seperti sosialita moderen. Dan mereka datang bersama dia tentunya. Karena itu keluarganya, atau mungkin lebih tepatnya saudara sedarah yang terkadang saling mendukung dan terkadang saling "mendukung". Rombongan kerajaan ini langsung masuk layaknya kotak ini adalah singgasana mereka, sang ratu duduk, para putri mengapit, dan sang raja berdiri memandang sambil memberikan nasihatnya.

Mereka tertawa, kita "tertawa". Obrolan-obrolan ini walaupun bukan khas kerajaan dan lebih ke wayang komedi yang menyambar setiap kata, diselingi bisik-bisik serius antar sang raja dan ratu. Namun itu hanya sekejap saja, seperti rasa takut peserta inisiasi Dauntless saat akan melompat dari kereta yang terus berjalan. Mereka sepertinya mengambil sesuatu dari kantong kerajaan mereka. Dari raut wajah mereka, sepertinya ini cukup serius dan sungkan untuk dibahas secara komedi sambar kata.

Rombongan kerajaan ini mengingatkan tentang kubus hadiah yang mereka berikan dan juga sekarung pakaian yang mereka bawa. Lalu sang raja menyorongkan tangannya yang menggenggam gulungan kertas yang cukup tebal ke arahmu. Dan sang ratu juga melakukannya kepadaku.

"Untuk beli KFC atau apalah."

Lalu kami tertawa bersama. Dan berterimakasih walaupun sebenarnya aku ingin sekali menolak hal itu. Menerima hal itu rasanya seperti perasaan Tobias saat di Abnegation. Penuh dusta. Dan berlari dari hal itu tidak akan menyelesaikannya karena itu adalah hal yang menopangku.

Aku ikut tertawa dan menanggapi walaupun tidak berapi-api.

Dan tak lama mereka memutuskan untuk angkat kaki dan keluar dari kotak ini untuk mencari kotak yang lebih layak, yang mungkin bentuknya bukan kotak 3×3.

"Ganti bajumu." katamu sembari berganti pakaian juga. Kau segera membersihkan kotak ini dari bekas-bekas tapak kaki rombongan kerajaan itu dan aku menjarah pemberian mereka. Sekantong plastik klip coklat, permen Skitties yang asam, dan banyak lagi.

Aku langsung mencoba coklat Herseys, dan itu enak di lidah. Katanya coklat bisa mengurangi stress kan.

Tapi kalau dalam kondisi ini . . .
Sepertinya malah menambah stress dan perang.